Jumat, 08 November 2013

Nama  : Hasanudin Yusuf Maulana

NPM    : 53413969

Kelas  : 1IA21

 

Pelapisan dan Perbedaan Derajat

Judul   : Bersilahturahmi dengan semua kalangan dan tidak pandang bulu pada materi yang dimiliki

Mungkin kita sering mendengar orang mampu dan tak mampu, karena itu sering terjadi di sekitar lingkungan tempat tinggal kita.
Perbedaan keduanya sebenarnya tidak teralalu signifikan kecuali di lihat tidak dari materi yang mereka punya, orang mampu atau dalam istilah “KAYA” adalah seseorang yang memiliki harta dan fasilitas yang lebih dari orang lain. Entah itu dari segi tunjangan, pekerjaan, ataupun status yang sering di beda-bedakan.
Dan mungkin mereka orang orang berada, kebanyakan sering membanggakan kemampuan mereka (meninggikan diri/sombong) terhadap orang-orang yang mereka anggap tak mampu.         
Contohnya saja : seringnya saat ini yang tidak mau bersilaturahmi dengan orang-orang yang tak mampu, misalnya : pengemis, pengamen, dan lainnya.

Padahal mereka semua di ciptakan sama, dan pastinya juga ada setiap orang tidaklah sempurna. Mereka mempunyai kelebihan dan kekurangannya sendiri.
Coba kita ambil contoh dari segelintir orang yang di sekitar kita dan sering kita lihat, para petinggi seperti DPR atau MPR dan Pengusaha-pengusaha lainnya. Mereka mempunyai materi yang sangat cukup sampai ke turunan mereka ke depan. Tapi masih banyak saja yang rakus untuk memakan uang rakyat yang membutuhkan. Entah itu korupsi atau apapun yang mereka anggap bisa menguntungkan dan menyenangkan keluarga dan diri sendiri saja.
Sedangkan orang yang tak mampu, mereka sengsara disana. Mereka kelaparan, kehausan dan kedinginan. Dan tidak ada yang mau membantu. Orang mampu hanya menopangkan kaki mereka saja tanpa merasakan kesatikan yang di rasakan orang lain.
   
Lihat saja di jalan-jalan banyak pengemis yang bela-bela mencari sesuap nasi untuk keluarganya walaupun makanan itu mereka dapatkan dari tempat samapat atau tempat yang tak layak. Sedangkan orang-orang kaya ?
   
Mereka menghamburkan uang-uangnya untuk membeli apa yang mereka mau. Padahal yang mereka beli itu tak sepenuhnya di perlukan, mungkin hanya untuk pamer kepada orang lain dan membuktikan mereka itu bisa membeli barang semahal apapun, bukan hanya barang. Makanan pun mereka buang dengan Cuma-Cuma jika mereka merasa perut mereka sudah kenyang dan sisanya biarlah pergi tanpa meninggalkan rasa kecewa atau mubazir sedikit pun.
Saya sendiri berfikir dan sedih, mungkin saya juga pernah melakukan hal seperti itu tanpa sengaja atau tidak sengaja. Dan saya sanat merasa bersalah karena telah melakukan hal seperti itu. Dan mulai saat ini saya sangat bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa karena telah memberikan kenikmatan terhadap saya atau orang-orang yang mendapatkan kebahagiaan yang sama seperti saya.
   
Bukan hanya barang atau makanan, kekayaan pun sering mereka gunakan dengan sia-sia atau cuma-Cuma di bandingkan mereka gunakan untuk sedekah.
Misalnya : kita bisa lihat di sekeliling, anak-anak dari orang yang mampu atau berada. Mereka malah menyia-nyiakan kepercayaan dari orang tuanya yang sudah susah payah mencari uang demi untuk membuat mereka bersekolah di tempat yang berkualitas. Tapi apa yang mereka lakukan ?
Kebanyakan dari mereka malah sering membolos, membuat masalah di sekolah. Karena zaaman sekarang semuanya bisa di beli tertutama nilai. Jadi mereka berfikiran untuk apa serius sekolah toh pada akhirnya mereka akan tetap bahagia dengan kekayaan yang mereka miliki saat ini. Padahal banyak anak-anak yang kurang mampu menginginkan sekolah yang layak bukan hanya sekolah seadanya di bawah kolong jembatan atau emperan ruko-ruko dengan guru yang memberi ilmu seikhalasnya.
   
Tapi ada yang lebih parah lagi, mereka menggunakan uang dari orang tuanya untuk hura-hura dengan bermain ke diskotik, membeli narkotika atau membeli minuman keras. Dan uang yang mereka gunakan itu terbuang sia-sia. Sedangkan anak di luaran sana hanya bisa berimajinasi untuk mempunyai uang segitu nanyak menurut mereka.
   
dan kebanyakan anak-anak yang tak mampu putus sekolah karna tak cukup biaya. alasan yang tak lain dan bukan kemiskinan lah yang membuat mereka seperti itu.
Jadi siapa yang mesti di salahkan untuk masalah ini ?
Entah siapa yang mau mengakuinya..
   
Andaikan saja tidak ada perbedaan derajat di dunia ini, mungkin semua takkan seperti ini. Semua bisa merasakan kesenangan yang sama walaupun pada akhirnya pasti akan ada masalah lain yang akan terjadi.
   
Solusi yang bagus dari masalah ini, yaitu kita harus saling bahu-membahu dan menolong dengan sesama, saling menghagai, atau derajat yang di miliki. Anggaplah mereka itu saudara. Saudara yang akan membantu kita bahagia bukan hanya di dunia melainkan di akhirat pula.
   
Tambahan solusi lainnya mungkin, hilang kebiasaan untuk membuang uang dengan cuma-cuma, di mohon dari sekarang berfikirlah dua kali untuk melakukan hal itu. Karena masih banyak orang yang membutuhkan, masih banyak orang yang ingin merasakan kebahagiaan yang sama.
   
Dan untuk para pengusaha, DPR atau orang yang bekerja di pemerintahan. Berhentilah untuk melakukan tidakan yang merugikan rakyat seperti korupsi. Berilah kenyamanan untuk rakyat. Bukankah akan lebih tentram bila melihat semua orang tersenyum bahagia dengan kebersamaan yang kita mulai dari sekarang.

Sumber :
id.wikipedia.com/Pelapisan dan Perbedaan Derajat 
(Sedikit saya edit dengan kata-kata saya sendiri)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar